Selamat datang, Login   Daftar Anggota Panduan   Tentang Kami   Standar Penulisan
                    
 
HINDARI PENIPUAN. BACA TIPS BERIKUT SEBELUM BERTRANSAKSI  
   2014-04-25 14:40:12 Kontak admin: agromaretweb[at]gmail[dot]com   
Jual/ Beli Komoditi
Semua Kategori
Sektor Pertanian
Sektor Peternakan
Sektor Perikanan
Lainnya
beranda harga komoditi jaringan supplier saung agromaret
   
Bijaksana Menggunakan Air
Sekitar 25 tahun lalu, masih banyak rembesan mata air bermunculan di kaki-kaki tebing. Bahkan di sekitar rumah kita selama musim hujan. Akan tetapi, kini tak ada lagi pemandangan sejuk seperti itu. Pada musim kemarau air danau malah tidak bersisa dan sumur gali makin kering. Masalah kekurangan air seperti itu di perkotaan malah lebih parah lagi. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Medan, permukaan air sumur gali menurun di musim kemarau, air leding debitnya mengecil sehingga harus diatur secara bergantian. Padahal air merupakan keperluan semua orang. Lalu timbul kerisauan, apakah jumlah air yang tersedia di Bumi mencukupi kebutuhan yang terus bertambah di masa mendatang? Untuk itulah, mulai sekarang kita sudah selayaknya memanfaatkan air secara bijaksana, terutama untuk konservasi air tanah.

Air hujan adalah sumber air primer. Tanpa air hujan tidak ada kehidupan di Bumi. Betapa berharganya air hujan, sampai-sampai di Jepang ada asosiasi pencinta hujan yang bernama Sumida.

Sumida adalah nama sebuah sungai besar yang mewarnai Kota Tokyo. LSM Sumida menyediakan segala sesuatu yang menyangkut pendayagunaan air hujan. Yang paling monumental adalah penampungan air hujan untuk antisipasi kebakaran di daerah perkampungan. Juga penggunaan air hujan untuk keperluan mencuci mobil, menyiram kebun dan toilet di gedung-gedung bertingkat. Bahkan kelompok ini pun mendesain penampungan air di atap gelanggang olahraga sumo yang luasnya mencapai 8.400 m2. Gedung-gedung pemerintah di Sumida City pun akhirnya memanfaatkan rancangan ini. Hasilnya? Penghematan air yang ruarr biasaaa!

Air hujan untuk mengantisipasi kebakaran (terutama di perkampungan yang tidak bisa dimasuki mobil pemadam) merupakan contoh pemanfaatan air secara bijaksana. Caranya amat sederhana. Tikungan atau persimpangan yang penting di kampung itu diperluas. Satu dua rumah diratakan. Tentu dengan ganti untung yang memadai. Di tempat itu dibikin kolam bawah tanah. Atasnya dipakai untuk taman. Beberapa pohon berbuah bisa ditanam di pinggiran. Lantas di tengah dipasang pompa. Untuk penanda apakah kolam penuh terisi air atau tidak dipasang patung dewa hujan. Bila penuh, patung itu akan berdiri tegak mempertontonkan seluruh tubuhnya. Kalau kosong tinggal topinya saja menutupi lubang tempat ia berdiri.

Patung dewa hujan itu disebut Jizo. Jizo ini sangat populer di masa silam. Anak-anak sekolah suka berteduh di bawah pohon-pohon yang mengelilingi Jizo bila hujan turun. Selain Jizo ada lagi satu peri yang juga populer, Kappa. Mirip katak, Kappa ini biasa menghiasi ember penampung air hujan. Roman mukanya akan sedih jika ember kosong, dan tersenyum gembira saat penuh.

Melalui ikon dan legenda yang sudah dikenal, Sumida menyosialisasikan program pemanfaatan air hujan. Cara lain adalah dengan mengadakan pertemuan, membentuk cabang dan ranting perkumpulan, membuat kuis atau cerdas cermat seputar masalah air.

Kelompok pencinta hujan ini wajib menyuluhi masyarakat tentang berbagai manfaat air. Bermacam-macam buku, poster, dan brosur diterbitkan untuk memuaskan dahaga masyarakat akan informasi mengenai hujan, pembuatan bak, penyaringan air, maupun pemasangan pompa untuk menaikkan lagi air ke lantai-lantai gedung bertingkat. Perlu diingat, kebanyakan air disimpan di bawah tanah karena terlalu berat bila ditampung atap. Atap berfungsi sebagai penadah saja.

Di Indonesia tradisi pemanfaatan air secara bijaksana bukannya tidak ada. Di NTT, misalnya, masyarakat suka menyimpan air dalam buli-buli atau gentong besar yang ditanam dalam tanah. Air dimanfaatkan hanya jika perlu. Sayangnya, tradisi itu tidak mengalir sampai ke perkotaan yang umumnya lebih banyak mengonsumsi air. Mengingat krisis air sudah di depan mata (Selamatkan Air Kita, Cing, Intisari Januari 2001), tak ada salahnya kita mengadopsi cara-cara orang Jepang tadi. (Khudori, alumnus Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Jember)

Sumber: indomedia.com
 
Copyright@2011 agromaret.com