kambing
Komoditi yang berhubungan:
minimal pembelian:
-
DKI JAKARTA
minimal pembelian:
1 Ekor
JAWA TIMUR
minimal pembelian:
-
JAWA TIMUR
minimal pembelian:
1 Ekor
BANTEN
minimal pembelian:
5 Ekor
JAWA TENGAH
minimal pembelian:
5 Ekor
JAWA TENGAH
minimal pembelian:
1 Ekor
JAWA BARAT
minimal pembelian:
1 Ekor
JAWA TIMUR
loading more
Dibutuhkan Kambing Jantan dg warna bulu coklat mulus (tanpa adanya warna bulu Hitam maupun Putih).
WA 083805819888.
loading more
Bismillah, saya mencari investor yang berminat untuk kerjasama peternakan kambing (kambing boer/etawa). Saya memiliki lahan seluas 6000 mtr2 di area jogjakarta (daerah perbukitan perbatasan dgn purworejo) yang ingin saya kembangkan untuk usaha peternakan dan untuk agrowisata kedepannya. Untuk itu, saya mencari investor/patner yg berminat mengembangkan usaha tsb. Tempat dataran tinggi dengan udara yg sejuk. Perkiraan untuk modal usaha sekitar 350jt, dan sistem bagi hasil. Apabila ingin mengelola bersama jg kita welcome. Yang penting semua bs berjalan baik dan mndapat hasil yg maksimal serta bisa memberi manfaat yg positif untuk masyarakat setempat. Lahan sertifikat milik sendiri, dan yg berminat bisa kontak ke saya. Terima kasih.
DI BUTUHKAN TEAM UNTUK BEKERJASAMA DENGAN KAMI DENGAN SISTEM JOIN ATAU BAGI HASIL , BERUPA TERNAK KAMBING PEDAGING
Bismillah,
Saya bermaksud untuk membuka peluang kerjasama penjualan hewan qurban tahun 2018 ini. Kebetulan saya ada sebidang tanah dengan lokasi yang cukup strategis (di pinggir jalan raya utama) di wilayah Bogor. Bentuk kerjasama berupa penjualan ternak qurban (sapi/domba/kambing). Mekanisme kerjasama dapat berupa beli putus dan saya jual sendiri atau kerjasama tempat penjualan. Untuk kerjasama tempat penjualan dapat berupa kerjasama titip jual sesuai harga yang paling kompetitif dari bapak/ibu dan saya mark-up secukupnya atau jasa penitipan saja. Jika Bapak/Ibu tertarik, lebih lanjutnya bisa dibicarakan via chat/telp/WA di nomor yang terdaftar.
Wassalam.
Butuh kerjasama pembelian domba buat penggemukan.kap kandang 1000 ekor.lahan msh ada luas..pemasaran sudah ada.keuntungan 40%-50%..per ekor..lama penggemulan 45 hari...ditawarkan kpd investor..70/30%.profit shering..minat wa.083829134390
loading more
Jual beli kambing harga murah dari supplier di Agromaret
Jual beli kambing langsung dari petani dan supplier seluruh indonesia. Dapatkan harga kambing termurah di halaman jual kambing agromaret.
kambing merupakan hewan yang lebih mudah ditemukan di Indonesia dengan berbagai macam jenisnya yang ada. misalnya kita sering menemukan warung sate kambing yang tersedia dimana-mana. pada waktu tertentu masyarakat Indonesia sering kita jumpai banyak yang mengkonsumsi daging kambing yang di hasilkan dari hari raya idul Adha. dimana pada massa Idul Adha, banyak orang yang berkurban dan membagikan dagingnya ke masyarakat. kebutuhan masyarakat tentang daging kambing menjadi seakan tiada matinya, dan tentunya bagi para peternak kambing, menjual kambing hasil ternaknya menjadi seakan memiliki pasar yang tidak ada matinya untuk di pasarkan.
Potensi dari peternakan kambing yang sebagian besar merupakan usaha pembudidayaan yang mempunyai peluang sangat besar untuk di kembangkan yang berorientasi agribisnis. Beternak kambing pun sangat efisien bagi anda yang ingin memulai pembudidayaan, teknik pemeliharaan dan juga cepatnya menghasilkan uang dari bisnis ini, sehingga usaha jual kambing ini sangat relevan untuk dikembangkan pada wilayah – wilayah Indonesia yang terkenal kering. Akan tetapi belum maksimalnya dukungan dari kebijakan pemerintah daerah untuk menetapkan wilayah-wilayah tertentu yang berpeluang sebagai kawasan pengembangan komoditas peternakan khusus yang berorientasi pada sektor agribisnis. Prospect usaha yang bagus di pasaran ternak lokal, nasional maupun mancanegara dengan tingkat harga yang semakin meningkat setiap tahun maka akan mendorong sistem produksi dan budidaya yang berkelanjutan bagi para pelaku usaha ini. Artikel ini bertujuan menganalisis sistem pemasaran ternak kambing untuk mendukung pengembangan ternak dan usaha agribisnis di wilayah – wilayah yang memiliki kontur tanah kering.
Secara umum para pelaku usaha ternak kambing ini menyadari bahwa pendapatan yang diperoleh dari jual beli kambing yang dilakukan selama ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan dasar rumah tangga. Namun banyak peternak sampai dengan saat ini membuka usaha peternakan kambing belum menanggap usaha ini sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga mereka hal ini menyebabkan keterbatasan modal dan pengetahuan manajemen usaha yang masih rendah dan kurang maksimalnya para peternak untuk serius dalam berbisnis dalam bidang ini. Hal ini dapat menggambarkan bahwa pendapatan usaha pangan sebesar 78,9% dan pendapatan usaha ternak kambing sebesar 48,4% digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja. Sedangkan modal yang di pakai oleh para peternak hanya berkisar antara 7 – 10 % saja dari total pendapatan rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil lebih memprioritaskan keuntungan terbatas sehingga modal yang dialokasikan untuk usaha ternak kambing para peternak pun relatif terbatas dengan alokasi keuntungan yang kurang maksimal.
Data dari aspek perputaran ekonomi dari kebanyakan usaha pembibitan ternak kambing yang ada, hanya memiliki jumlah induk yang ada sebanyak 8 ekor relatif kecil dengan keuntungan yang diperoleh selama 1 tahun lebih hanya mencapai angka Rp 1.800.000 atau hanya menghasilkan Rp 120.000 perbulan nya saja. Pembelian indukan kambing untuk pembibitan dan penggemukan umumnya dilakukan oleh pelaku peternakan pada sesama peternak saja, namun ada juga yang membeli di pasar hewan maupun pada pedagang pengumpul. Tetapi jika para peternak membeli indukan kambing di pasar hewan harga kambing lebih mahal dibandingkan jika membeli pada sesama peternak.
Jumlah pembelian dan penjualan dalam ternak kambing antara beberapa pelaku usaha ini relatif berbeda, hal ini disesuaikan dengan kemampuan modal usaha yang dimiliki. Menjelang hari raya idul Adha saja jumlah penjualan kambing relatif cukup meningkat karena meningkatnya pembelian kambing potong. Degan meningkatnya pembelian kambing di hari raya peternak berharap mendapat keuntungan yang signifikan dari sisi ekonomi.
peternak menerima harga sebesar Rp 520.000 per ekor kambing. Harga ini merupakan harga persaingan dan keuntungan yang di dapat dari penjualan para pedagang pada saat hari raya berkisar di angka 30% keuntungan. Total marjin pemasaran sebesar 24,24 % dari harga jual didistribusikan sebagai biaya marketing peternak pada saat hari raya masing-masing sebesar 3,40 % dan 20,84 %. Komponen utama biaya pemasaran adalah biaya angkutan 1,25 % dan biaya tidak resmi atau biaya untuk makelar penjualan (0,97 %).
Sebelum kambing di jual, para peternak di anjurkan selalu mencari informasi perkembangan harga kambing dan volume pembelian kambing di pasar-pasar hewan di pulau Jawa.Keadaan ini dapat memperkuat posisi peternak dalam proses tawar menawar dengan para pengepul yang bersaing untuk membeli kambing dari para peternak. Dengan sistem demikian akan berdampak pada terbentuknya tingkat harga kambing yang menguntungkan bagi peternak. Rumah makan dan restoran lebih banyak membeli kambing hidup kepada pedagang pengumpul dan memotong sendiri sehingga tidak membeli daging pada rumah pemotongan, sedangkan rumah pemotongan dapat menjual daging kepada pedagang daging di pasar atau pedagang sate dan rumah tangga serta pengusaha aqiqah dengan harga berkisar Rp 25.000 – 40.000/kg.
Potensi Dari Komoditas ternak Kambing
Potensi dari peternakan kambing yang sebagian besar merupakan usaha pembudidayaan yang mempunyai peluang sangat besar untuk di kembangankan yang berorientasi agribisnis. Beternak kambing pun sangat efisien bagi anda yang ingin memulai pembudidayaan, teknik pemeliharaan dan juga cepatnya menghasilkan uang dari bisnis ini, sehingga usaha ini sangat relevan untuk dikembangkan pada wilayah – wilayah Indonesia yang terkenal kering. Akan tetapi belum maksimalnya dukungan dari kebijakan pemerintah daerah untuk menetapkan wilayah-wialayah tertentu yang berpeluang sebagai kawasan pengembangan komoditas peternakan khusus yang berorientasi pada sektor agribisnis. Prospect usaha yang bagus di pasaran ternak lokal, nasional maupun mancanegara dengan tingkat harga yang semakin meningkat setiap tahun maka akan mendorong sistem produksi dan budidaya yang berkelanjutan bagi para pelaku usaha ini. Artikel ini bertujuan menganalisis sistem pemasaran ternak kambing untuk mendukung pengembangan ternak dan usaha agribisnis di wilayah – wilayah yang memiliki kontur tanah kering.
Secara umum para pelaku usaha ternak kambing ini menyadari bahwa pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak kambing yang dilakukan selama ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan dasar rumah tangga. Namun banyak peternak sampai dengan saat ini membuka usaha peternakan kambing belum menanggap usaha ini sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga mereka hal ini menyebabkan keterbatasan modal dan pengetahuan manajemen usaha yang masih rendah dan kurang maksimalnya para peternak untuk serius dalam berbisnis dalam bidang ini. Hal ini dapat menggambarkan bahwa pendapatan usaha pangan sebesar 78,9% dan pendapatan usaha ternak kambing sebesar 48,4% digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja. Sedangkan modal yang di pakai oleh para peternak hanya berkisar antara 7 – 10 % saja dari total pendapatan rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil lebih memprioritaskan keuntungan terbatas sehingga modal yang dialokasikan untuk usaha ternak kambing para peternak pun relatif terbatas dengan alokasi keuntungan yang kurang maksimal.
Data dari aspek perputaran ekonomi dari kebanyakan usaha pembibitan ternak kambing yang ada, hanya memiliki jumlah induk yang ada sebanyak 8 ekor relatif kecil dengan keuntungan yang diperoleh selama 1 tahun lebih hanya mencapai angka Rp 1.800.000 atau hanya menghasilkan Rp 120.000 perbulan nya saja. Pembelian indukan kambing untuk pembibitan dan penggemukan umumnya dilakukan oleh pelaku peternakan pada sesama peternak saja, namun ada juga yang membeli di pasar hewan maupun pada pedagang pengumpul. Tetapi jika para peternak membeli indukan kambing di pasar hewan harganya lebih mahal dibandingkan jika membeli pada sesama peternak.
Jumlah pembelian dan penjualan dalam ternak kambing antara beberapa pelaku usaha ini relatif berbeda, hal ini disesuaikan dengan kemampuan modal usaha yang dimiliki. Menjelang hari raya idul Adha saja jumlah penjualan kambing relatif cukup meningkat karena meningkatnya permintaan kambing potong. Degan meningkatnya permintaan di hari raya peternak berharap mendapat keuntungan yang signifikan dari sisi ekonomi.
peternak menerima harga sebesar Rp 520.000 per ekor kambing. Harga ini merupakan harga persaingan dan keuntungan yang di dapat dari penjualan para pedagang pada saat hari raya berkisar di angka 30% keuntungan. Total marjin pemasaran sebesar 24,24 % dari harga jual didistribusikan sebagai biaya marketing peternak pada saat hari raya masing-masing sebesar 3,40 % dan 20,84 %. Komponen utama biaya pemasaran adalah biaya angkutan 1,25 % dan biaya tidak resmi atau biaya untuk makelar penjualan (0,97 %).
Sebelum ternak di jual, para peternak di anjurkan selalu mencari informasi perkembangan harga dan volume pembelian ternak kambing di pasar-pasar hewan di pulau Jawa.Keadaan ini dapat memperkuat posisi peternak dalam proses tawar menawar dengan para pengepul yang bersaing untuk membeli ternak kambing dari para peternak. Dengan sistem demikian akan berdampak pada terbentuknya tingkat harga kambing yang menguntungkan bagi peternak. Rumah makan dan restoran lebih banyak membeli kambing hidup kepada pedagang pengumpul dan memotong sendiri sehingga tidak membeli daging pada rumah pemotongan, sedangkan rumah pemotongan dapat menjual daging kepada pedagang daging di pasar atau pedagang sate dan rumah tangga serta pengusaha aqiqah dengan harga berkisar Rp 25.000 – 40.000/kg.
Bagikan:

Jual beli kambing langsung dari petani dan supplier seluruh indonesia. Dapatkan harga kambing termurah di halaman jual kambing agromaret.
kambing merupakan hewan yang lebih mudah ditemukan di Indonesia dengan berbagai macam jenisnya yang ada. misalnya kita sering menemukan warung sate kambing yang tersedia dimana-mana. pada waktu tertentu masyarakat Indonesia sering kita jumpai banyak yang mengkonsumsi daging kambing yang di hasilkan dari hari raya idul Adha. dimana pada massa Idul Adha, banyak orang yang berkurban dan membagikan dagingnya ke masyarakat. kebutuhan masyarakat tentang daging kambing menjadi seakan tiada matinya, dan tentunya bagi para peternak kambing, menjual kambing hasil ternaknya menjadi seakan memiliki pasar yang tidak ada matinya untuk di pasarkan.
Potensi dari peternakan kambing yang sebagian besar merupakan usaha pembudidayaan yang mempunyai peluang sangat besar untuk di kembangkan yang berorientasi agribisnis. Beternak kambing pun sangat efisien bagi anda yang ingin memulai pembudidayaan, teknik pemeliharaan dan juga cepatnya menghasilkan uang dari bisnis ini, sehingga usaha jual kambing ini sangat relevan untuk dikembangkan pada wilayah – wilayah Indonesia yang terkenal kering. Akan tetapi belum maksimalnya dukungan dari kebijakan pemerintah daerah untuk menetapkan wilayah-wilayah tertentu yang berpeluang sebagai kawasan pengembangan komoditas peternakan khusus yang berorientasi pada sektor agribisnis. Prospect usaha yang bagus di pasaran ternak lokal, nasional maupun mancanegara dengan tingkat harga yang semakin meningkat setiap tahun maka akan mendorong sistem produksi dan budidaya yang berkelanjutan bagi para pelaku usaha ini. Artikel ini bertujuan menganalisis sistem pemasaran ternak kambing untuk mendukung pengembangan ternak dan usaha agribisnis di wilayah – wilayah yang memiliki kontur tanah kering.
Secara umum para pelaku usaha ternak kambing ini menyadari bahwa pendapatan yang diperoleh dari jual beli kambing yang dilakukan selama ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan dasar rumah tangga. Namun banyak peternak sampai dengan saat ini membuka usaha peternakan kambing belum menanggap usaha ini sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga mereka hal ini menyebabkan keterbatasan modal dan pengetahuan manajemen usaha yang masih rendah dan kurang maksimalnya para peternak untuk serius dalam berbisnis dalam bidang ini. Hal ini dapat menggambarkan bahwa pendapatan usaha pangan sebesar 78,9% dan pendapatan usaha ternak kambing sebesar 48,4% digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja. Sedangkan modal yang di pakai oleh para peternak hanya berkisar antara 7 – 10 % saja dari total pendapatan rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil lebih memprioritaskan keuntungan terbatas sehingga modal yang dialokasikan untuk usaha ternak kambing para peternak pun relatif terbatas dengan alokasi keuntungan yang kurang maksimal.
Data dari aspek perputaran ekonomi dari kebanyakan usaha pembibitan ternak kambing yang ada, hanya memiliki jumlah induk yang ada sebanyak 8 ekor relatif kecil dengan keuntungan yang diperoleh selama 1 tahun lebih hanya mencapai angka Rp 1.800.000 atau hanya menghasilkan Rp 120.000 perbulan nya saja. Pembelian indukan kambing untuk pembibitan dan penggemukan umumnya dilakukan oleh pelaku peternakan pada sesama peternak saja, namun ada juga yang membeli di pasar hewan maupun pada pedagang pengumpul. Tetapi jika para peternak membeli indukan kambing di pasar hewan harga kambing lebih mahal dibandingkan jika membeli pada sesama peternak.
Jumlah pembelian dan penjualan dalam ternak kambing antara beberapa pelaku usaha ini relatif berbeda, hal ini disesuaikan dengan kemampuan modal usaha yang dimiliki. Menjelang hari raya idul Adha saja jumlah penjualan kambing relatif cukup meningkat karena meningkatnya pembelian kambing potong. Degan meningkatnya pembelian kambing di hari raya peternak berharap mendapat keuntungan yang signifikan dari sisi ekonomi.
peternak menerima harga sebesar Rp 520.000 per ekor kambing. Harga ini merupakan harga persaingan dan keuntungan yang di dapat dari penjualan para pedagang pada saat hari raya berkisar di angka 30% keuntungan. Total marjin pemasaran sebesar 24,24 % dari harga jual didistribusikan sebagai biaya marketing peternak pada saat hari raya masing-masing sebesar 3,40 % dan 20,84 %. Komponen utama biaya pemasaran adalah biaya angkutan 1,25 % dan biaya tidak resmi atau biaya untuk makelar penjualan (0,97 %).
Sebelum kambing di jual, para peternak di anjurkan selalu mencari informasi perkembangan harga kambing dan volume pembelian kambing di pasar-pasar hewan di pulau Jawa.Keadaan ini dapat memperkuat posisi peternak dalam proses tawar menawar dengan para pengepul yang bersaing untuk membeli kambing dari para peternak. Dengan sistem demikian akan berdampak pada terbentuknya tingkat harga kambing yang menguntungkan bagi peternak. Rumah makan dan restoran lebih banyak membeli kambing hidup kepada pedagang pengumpul dan memotong sendiri sehingga tidak membeli daging pada rumah pemotongan, sedangkan rumah pemotongan dapat menjual daging kepada pedagang daging di pasar atau pedagang sate dan rumah tangga serta pengusaha aqiqah dengan harga berkisar Rp 25.000 – 40.000/kg.
Potensi Dari Komoditas ternak Kambing
Potensi dari peternakan kambing yang sebagian besar merupakan usaha pembudidayaan yang mempunyai peluang sangat besar untuk di kembangankan yang berorientasi agribisnis. Beternak kambing pun sangat efisien bagi anda yang ingin memulai pembudidayaan, teknik pemeliharaan dan juga cepatnya menghasilkan uang dari bisnis ini, sehingga usaha ini sangat relevan untuk dikembangkan pada wilayah – wilayah Indonesia yang terkenal kering. Akan tetapi belum maksimalnya dukungan dari kebijakan pemerintah daerah untuk menetapkan wilayah-wialayah tertentu yang berpeluang sebagai kawasan pengembangan komoditas peternakan khusus yang berorientasi pada sektor agribisnis. Prospect usaha yang bagus di pasaran ternak lokal, nasional maupun mancanegara dengan tingkat harga yang semakin meningkat setiap tahun maka akan mendorong sistem produksi dan budidaya yang berkelanjutan bagi para pelaku usaha ini. Artikel ini bertujuan menganalisis sistem pemasaran ternak kambing untuk mendukung pengembangan ternak dan usaha agribisnis di wilayah – wilayah yang memiliki kontur tanah kering.
Secara umum para pelaku usaha ternak kambing ini menyadari bahwa pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak kambing yang dilakukan selama ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan dasar rumah tangga. Namun banyak peternak sampai dengan saat ini membuka usaha peternakan kambing belum menanggap usaha ini sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga mereka hal ini menyebabkan keterbatasan modal dan pengetahuan manajemen usaha yang masih rendah dan kurang maksimalnya para peternak untuk serius dalam berbisnis dalam bidang ini. Hal ini dapat menggambarkan bahwa pendapatan usaha pangan sebesar 78,9% dan pendapatan usaha ternak kambing sebesar 48,4% digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja. Sedangkan modal yang di pakai oleh para peternak hanya berkisar antara 7 – 10 % saja dari total pendapatan rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil lebih memprioritaskan keuntungan terbatas sehingga modal yang dialokasikan untuk usaha ternak kambing para peternak pun relatif terbatas dengan alokasi keuntungan yang kurang maksimal.
Data dari aspek perputaran ekonomi dari kebanyakan usaha pembibitan ternak kambing yang ada, hanya memiliki jumlah induk yang ada sebanyak 8 ekor relatif kecil dengan keuntungan yang diperoleh selama 1 tahun lebih hanya mencapai angka Rp 1.800.000 atau hanya menghasilkan Rp 120.000 perbulan nya saja. Pembelian indukan kambing untuk pembibitan dan penggemukan umumnya dilakukan oleh pelaku peternakan pada sesama peternak saja, namun ada juga yang membeli di pasar hewan maupun pada pedagang pengumpul. Tetapi jika para peternak membeli indukan kambing di pasar hewan harganya lebih mahal dibandingkan jika membeli pada sesama peternak.
Jumlah pembelian dan penjualan dalam ternak kambing antara beberapa pelaku usaha ini relatif berbeda, hal ini disesuaikan dengan kemampuan modal usaha yang dimiliki. Menjelang hari raya idul Adha saja jumlah penjualan kambing relatif cukup meningkat karena meningkatnya permintaan kambing potong. Degan meningkatnya permintaan di hari raya peternak berharap mendapat keuntungan yang signifikan dari sisi ekonomi.
peternak menerima harga sebesar Rp 520.000 per ekor kambing. Harga ini merupakan harga persaingan dan keuntungan yang di dapat dari penjualan para pedagang pada saat hari raya berkisar di angka 30% keuntungan. Total marjin pemasaran sebesar 24,24 % dari harga jual didistribusikan sebagai biaya marketing peternak pada saat hari raya masing-masing sebesar 3,40 % dan 20,84 %. Komponen utama biaya pemasaran adalah biaya angkutan 1,25 % dan biaya tidak resmi atau biaya untuk makelar penjualan (0,97 %).
Sebelum ternak di jual, para peternak di anjurkan selalu mencari informasi perkembangan harga dan volume pembelian ternak kambing di pasar-pasar hewan di pulau Jawa.Keadaan ini dapat memperkuat posisi peternak dalam proses tawar menawar dengan para pengepul yang bersaing untuk membeli ternak kambing dari para peternak. Dengan sistem demikian akan berdampak pada terbentuknya tingkat harga kambing yang menguntungkan bagi peternak. Rumah makan dan restoran lebih banyak membeli kambing hidup kepada pedagang pengumpul dan memotong sendiri sehingga tidak membeli daging pada rumah pemotongan, sedangkan rumah pemotongan dapat menjual daging kepada pedagang daging di pasar atau pedagang sate dan rumah tangga serta pengusaha aqiqah dengan harga berkisar Rp 25.000 – 40.000/kg.
Kembali ke halaman sebelumnya..
kambing